Usulan mengenai Nico Paz memicu imajinasi Nerazzurri, tetapi realita di lapangan menuntut analisis yang dingin dan mendalam.
Meskipun pemain Argentina kelahiran 2004 ini mewakili peluang luar biasa dari perspektif bakat murni, potensi kepindahan Inter akan memaksa perombakan lini tengah.
Memilih Paz dan meninggalkan opsi Curtis Jones bukanlah sekadar perubahan nama, melainkan pergeseran strategi yang jelas dalam hal karakteristik dan keseimbangan tim.
Lini tengah Cristian Chivu sudah memiliki sederet pemain dengan kemampuan menyerang yang kuat, termasuk kemampuan untuk berlari ke depan dan mengoper bola.
Pemain seperti Hakan Çalhanoğlu , Nicolò Barella , Piotr Zieliński , Davide Frattesi (meskipun ia akan pergi), dan Henrikh Mkhitaryan menjadikan kualitas teknik dan proyeksi ke depan sebagai ciri khas mereka. Dalam konteks ini, kehadiran gelandang serang murni seperti Nico Paz akan berisiko mengganggu keseimbangan formasi. Pemain Argentina ini gemar bergerak di antara lini, menciptakan peluang, dan menembak, tetapi membutuhkan perlindungan yang solid di belakangnya untuk menghindari pertahanan yang rentan terhadap serangan balik mematikan.
Di sinilah muncul kontradiksi taktis dengan profil Curtis Jones . Penyerang Liverpool ini , meskipun memiliki kemampuan mengolah bola yang luar biasa, menawarkan fisik, kemampuan merebut bola, dan disiplin taktis yang lebih dekat dengan kemampuan bertahan dan keseimbangan seorang gelandang.
Dengan skuad yang cenderung menyerang, fisik Jones akan menawarkan Chivu perisai pertahanan yang krusial untuk memberi Chivu istirahat bagi para pemain inti.
Memilih Nico Paz berarti bertaruh pada filosofi "mencetak satu gol lebih banyak daripada lawan", menjalani gaya bermain yang sangat menyerang yang, bagaimanapun, bisa berakibat fatal di kompetisi Eropa.