Kepergian Acerbi dan de Vrij menciptakan lubang paling nyata di pusat pertahanan. Inter Milan masih memiliki Alessandro Bastoni, Yann Bisseck, Carlos Augusto, dan opsi lain, tetapi kedalaman posisi bek tengah harus segera diperkuat.
Masalahnya, klub tidak cukup hanya merekrut bek muda berbakat yang masih butuh banyak waktu adaptasi. Inter Milan membutuhkan minimal satu bek tengah yang siap bermain reguler sejak pekan pertama Serie A.
Sistem tiga bek Inter Milan menuntut pemain dengan kemampuan bertahan sekaligus membangun serangan. Bek tengah tidak boleh hanya kuat duel udara, tetapi juga harus bisa membawa bola, mengirim umpan vertikal, dan membaca ruang.
Nama Oumar Solet dan Trevoh Chalobah muncul dalam rumor karena profil fisik mereka sesuai kebutuhan modern. Keduanya menawarkan atletisme, usia yang masih masuk fase berkembang, dan potensi menjadi bagian dari proyek jangka panjang.
Namun, Inter Milan harus berhati-hati agar tidak sekadar mengejar nama yang sedang ramai. Bek baru harus benar-benar cocok dengan tuntutan Chivu, terutama dalam situasi garis tinggi, pressing, dan transisi negatif.
Chalobah bisa menarik karena punya pengalaman di Premier League dan dapat bermain di beberapa posisi. Solet juga menggoda karena fisiknya kuat, tetapi Inter Milan harus memastikan harga, karakter, dan kesiapan taktiknya sepadan.
Dalam beberapa musim terakhir, Inter Milan sering sukses memakai pemain berpengalaman dengan biaya relatif efisien. Strategi itu pintar, tetapi tidak bisa selalu menjadi jawaban ketika banyak pilar senior pergi bersamaan.
Kini klub harus berani membayar untuk kualitas yang lebih tahan lama. Jika hanya mencari opsi murah jangka pendek, Inter Milan berisiko mengulang siklus yang sama dan kembali panik pada musim berikutnya.
Bek baru idealnya berada pada rentang usia 24 sampai 28 tahun. Usia itu memberi keseimbangan antara pengalaman, tenaga, nilai jual, dan kemampuan berkembang dalam proyek taktik jangka menengah. (mashable indonesia)