Mengurai Akar Masalah: Kenapa Pavard Sejak Awal Sulit Menyatu dengan Inter?


Ketika Inter Milan resmi mendatangkan Benjamin Pavard dari Bayern Munich pada musim panas 2023 dengan nilai transfer sekitar €30 juta, banyak pihak menilai ini sebagai rekrutan yang menjanjikan. Pavard datang dengan status juara Piala Dunia 2018 bersama Prancis, pengalaman panjang di level elite Eropa, serta reputasi sebagai bek yang serbabisa. Namun kenyataannya, perjalanan Pavard di Giuseppe Meazza justru dipenuhi turbulensi sejak awal, hingga akhirnya berujung pada perpisahan yang penuh drama di musim panas 2026 ini. Lantas, apa sebenarnya akar masalah yang membuat Pavard sejak mula kesulitan benar-benar menyatu dengan skema permainan Inter?

Benturan Filosofi Posisi: Fullback vs Wing-Back Sejati

Salah satu faktor fundamental yang sering luput dari sorotan adalah perbedaan mendasar antara peran yang dijalani Pavard selama bertahun-tahun di Bayern Munich dengan tuntutan skema permainan Inter di bawah Simone Inzaghi. Di Bayern, Pavard dikenal sebagai bek kanan dalam sistem empat bek konvensional, peran yang menuntut disiplin posisi serta kemampuan bertahan satu lawan satu yang solid.

Namun begitu tiba di Italia, Pavard justru dihadapkan pada sistem 3-5-2 andalan Inzaghi, yang menuntut karakter permainan sama sekali berbeda. Dalam skema ini, posisi bek kanan sesungguhnya diisi oleh wing-back murni seperti Denzel Dumfries, sosok yang dituntut memiliki stamina luar biasa untuk terus naik-turun sepanjang laga layaknya pemain sayap tambahan. Sementara itu, tiga bek tengah dalam formasi ini dituntut memiliki kemampuan membangun serangan dari lini belakang dengan umpan-umpan progresif, karakteristik yang sebenarnya lebih dekat dengan gaya permainan Alessandro Bastoni ketimbang Pavard.

Akibatnya, Pavard kerap ditempatkan pada peran yang ambigu: kadang sebagai bek tengah kanan dalam trio pertahanan, namun di momen-momen tertentu justru dipaksa menjalankan fungsi darurat sebagai bek sayap ketika Inzaghi bereksperimen dengan formasi empat bek akibat krisis pemain. Situasi silang-sengkarut posisi semacam ini membuat Pavard tidak pernah benar-benar menemukan peran yang stabil dan konsisten sejak awal masa baktinya di Inter.

Persaingan Ketat di Trio Bek Tengah

Faktor kedua yang tidak kalah signifikan adalah ketatnya persaingan memperebutkan slot di lini pertahanan Inter. Sejak awal kedatangannya, Pavard harus bersaing dengan trio yang sudah solid dan terbukti efektif, yaitu Matteo Darmian, Francesco Acerbi, dan Alessandro Bastoni—kombinasi yang bahkan sukses mengantarkan Inter melaju hingga final Liga Champions 2023, tepat sebelum kedatangan Pavard. Realitas ini membuat Pavard harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan tempat reguler, sesuatu yang tidak mudah bagi pemain yang baru saja beradaptasi dengan liga, bahasa, dan budaya sepak bola yang sama sekali baru.

Meski begitu, tidak sepenuhnya benar bahwa Pavard gagal total di Inter. Ia sempat mencatatkan momen-momen penting, termasuk kembali dipercaya Inzaghi sebagai starter pada final Liga Champions 2025 melawan PSG berkat pengalaman internasionalnya yang dianggap krusial menghadapi lini serang tajam Les Parisiens. Namun momen-momen positif semacam ini cenderung sporadis, bukan representasi konsistensi performa yang diharapkan dari pemain sekelas juara dunia.

Cedera dan Periode Adaptasi yang Berlarut

Selain faktor taktis, masalah cedera turut menjadi penghambat signifikan bagi Pavard untuk benar-benar solid di lini pertahanan Inter. Periode-periode absen akibat cedera membuat ritme permainannya kerap terputus, sehingga sulit baginya membangun konsistensi maupun kepercayaan penuh dari pelatih secara berkelanjutan. Ditambah lagi, transisi dari kompetisi Bundesliga yang cenderung lebih terbuka menuju Serie A yang jauh lebih taktis dan mengutamakan disiplin posisi, turut menjadi tantangan adaptasi tersendiri baginya di tahun-tahun awal.

Dari Masalah Taktis ke Persoalan Non-Teknis

Yang membuat kasus Pavard semakin kompleks adalah bagaimana ketidakcocokan taktis di awal kariernya perlahan berkembang menjadi persoalan yang lebih dalam. Setelah dipinjamkan ke Marseille pada 2025 dan gagal menunjukkan performa meyakinkan di sana—termasuk sorotan tajam usai kekalahan telak 5-0 dari PSG—Marseille akhirnya memutuskan tidak mengaktifkan opsi pembelian permanen senilai €15 juta yang telah disepakati sebelumnya.

Kepulangannya ke Appiano Gentile pun tidak disambut dengan tangan terbuka. Sejumlah laporan media Italia bahkan menyebut adanya faktor non-teknis, terkait dinamika internal tim dan perilaku sang pemain, yang turut memengaruhi keputusan manajemen untuk tidak lagi memasukkannya dalam rencana skuad utama Cristian Chivu. Situasi ini pada akhirnya membuat hubungan Pavard dengan Inter benar-benar retak, jauh melampaui sekadar persoalan taktis semata yang menjadi akar masalah sejak awal kedatangannya.

Ketidakcocokan yang Berakar dari Sistem, Bukan Sekadar Kualitas

Pada akhirnya, kasus Pavard menjadi contoh nyata bagaimana kualitas individu semata tidak selalu menjamin kesuksesan adaptasi dalam sebuah sistem permainan yang sangat spesifik. Sejak awal kedatangannya, Pavard sebenarnya sudah dihadapkan pada tantangan struktural: peran yang tidak sepenuhnya jelas dalam skema tiga bek Inzaghi, ditambah persaingan ketat dari trio bek yang sudah solid lebih dulu. Kombinasi faktor taktis, cedera, dan pada akhirnya persoalan non-teknis inilah yang secara bertahap mengikis hubungan Pavard dengan Inter, hingga akhirnya bermuara pada perpisahan yang tak terelakkan di musim panas 2026 ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak